MAKALAH AKUTANSI INTERNASIONAL MENGENAI EKSPOR & IMPOR

MAKALAH AKUTANSI INTERNASIONAL MENGENAI EKSPOR & IMPOR

 

 

 

 

 

DISUSUN OLEH :

 

Nama                       :           HERYADI

NPM                        :           20209258                               

Kelas                        :           4EB12

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS GUNADARMA

2013

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1       Latar Belakang

Akuntansi bukanlah merupakan hal yang tabu lagi di pendengaran kita. Kita ketahui bersama bahwa akuntansi merupakan kumpulan prosedur-prosedur untuk mencatat, mengklasifikasikan, mengikhtisarkan dan melaporkan dalam bentuk laporan keuangan.Pengelolaan keuangan yang baik dan transparan memerlukan pengetahuan dan ketrampilan akuntansi secara baik. Sedangkan menurut Keputusan Menteri Keuangan RI (no. 476 kmk. 01 1991) Akuntansi adalah suatu proses pengumpulan, pencatatan, penganalisaan, peringkasan, pengklasifikasian dan pelaporan transaksi keuangan dari suatu kesatuan ekonomi untuk menyediakan informasi keuangan bagi para pemakai laporan yang berguna untuk pengambilan keputusan.

Berlandasan dengan pengertian akuntansi sebelumnya, akuntansi internasional merupakan akuntansi untuk transaksi internasional, perbandingan prinsip akuntansi antarnegara yang berbeda dan harmonisasi berbagai standar akuntansi dalam bidang kewenangan pajak, auditing dan bidang akuntansi lainnya.Akuntansi harus berkembang agar mampu memberikan informasi yang diperlukan dalam pengambilan keputusan di perusahaan pada setiap perubahan lingkungan bisnis.

Terdapat beberapa fakor yang dapat mempengaruhi akuntansi internasional, yaitu sebagai berikut:

  1. Sumber pendanaan

Di Negara-negara dengan pasar ekuitas yang kuat, akuntansi memiliki fokus atas seberapa baik manajemen menjalankan perusahaan (profitabilitas), dan dirancang untuk membantu investor menganalisis arus kas masa depan dan resiko terkait.

  1. Sistem Hukum

Dunia barat memiliki dua orientasi dasar: hukum kode (sipil) dan hukum umum (kasus). Dalam Negara-negara hukum kode, hukum merupakan satu kelompok lengkap yang mencakup ketentuan dan prosedur sehingga aturan akuntansi digabungkan dalam hukum nasional dan cenderung sangat lengkap.Sebaliknya, hukum umum berkembang atas dasar kasus per kasus tanpa adanya usaha untuk mencakup seluruh kasus dalam kode yang lengkap.

  1. Perpajakan
    Di kebanyakan Negara, peraturan pajak secara efektif menentukan standar karena perusahaan harus mencatat pendapatan dan beban dalam akun mereka untuk mengklaimnya untuk keperluan pajak. Ketika akuntansi keuangan dan pajak terpisah, kadang-kadang aturan pajak mengharuskan penerapan prinsip akuntansi tertentu.
  2. Ikatan Politik dan Ekonomi
  3. Inflasi

Inflasi menyebabkan distorsi terhadap akuntansi biaya historis dan mempengaruhi kecenderungan (tendensi) suatu Negara untuk menerapkan perubahan terhadap akun-akun perusahaan.

  1. Tingkat Perkembangan Ekonomi

Faktor ini mempengaruhi jenis transaksi usaha yang dilaksanakan dalam suatu perekonomian dan menentukan manakah yang paling utama.

  1. Tingkat Pendidikan

Standard praktik akuntansi yang sangat rumit akan menjadi tidak berguna jika disalahartikan dan disalahgunakan. Pengungkapan mengenai resiko efek derivative tidak akaninformative kecuali jika dibaca oleh pihak yang berkompeten.

  1. Budaya
    Empat dimensi budaya nasional, menurut Hofstede: individualisme, jarak kekuasaan, penghindaran ketidakpastian, maskulinitas.

Berkaitan dengan isu yang akan diangkat dalam makalah ini, sebaiknya kita perlu mengetahui seperti apa yang disebut dengan impor dan ekspor itu sendiri. Kita ketahui bersama bahwa ekspor merupakan kegiatan perseorangan atau badan hukum yang menjual barang ke luar negeri.Sedangkan impor merupakan suatu kegiatan perseorangan atau badan hukum yang membeli barang dari luar negeri untuk dijual kembali di dalam negeri.

 

 

 

 

 

 

Adapun perbedaan lebih konkret mengenai ekspor dan impor, adalah sebagai berikut:

EKSPOR

IMPOR

- Ekspor adalah kegiatan perseorangan atau badan    hukum yang menjual barang ke luar negeri.

 

– Orang atau badan hukum yang melakukan kegiatan ekspor dinamakan eksportir. 

– Tujuan dilakukan ekspor bagi perseorangan adalah untuk memperoleh keuntungan.

– Tujuan dilakukan ekspor bagi negara adalah untuk memperoleh devisa negara dalam bentuk mata uang asing.

- Impor adalah kegiatan perseorangan atau badan hukum yang membeli barang dari luar negeri untuk dijual kembali di dalam negeri.

 

 

- Orang atau badan hukum yang melakukan kegiatan impor dinamakan importir.

– Tujuan dilakukan impor bagi perseorangan adalah untuk memperoleh laba.

– Tujuan dilakukan impor bagi negara adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat

 

Indonesia merupakan salah satu Negara yang kaya dalam hal sumber daya alamnya. Terdapat dua macam ekspor yang dilakukan oleh Indonesia, yaitu:

  1. Minyak bumi dan gas alam (Migas).

Barang-barang yang termasuk migas antara lain : minyak tanah, bensin, solar dan elpiji.

  1. Non Migas.

Barang-barang yang termasuk non migas antara lain : hasil pertanian dan perkebunan (karet, kopi dan kopra); hasil laut (ikan dan kerang); hasil industri (kayu lapis, minyak kelapa sawit, pupuk, kertas dan bahan kimia); serta hasil tambang non migas (bijih nikel, bijih tembaga dan batu bara).

Faktor yang mempengaruhi perkembangan ekspor suatu negara :

  1. Kebijakan pemerintah di bidang perdagangan luar negeri.
  2. Keadaan pasar luar negeri.
  3. Kemampuan eksportir memanfaatkan peluang pasar.

 

Ketika Indonesia melakukan impor dari Negara-negara lain, hal yang menjadi kontroversi yaitu seperti apa dampak yang akan timbul juka impor tersebut diizinkan. Pada dasarnya kegiatan impor ini membawa dampak positif dan juga negatif. Berikut paparannya.

Dampak positif pembatasan impor adalah :

  1. Menumbuhkan rasa cinta produksi dalam negeri.
  2. Mengurangi keluarnya devisa ke luar negeri.
  3. Memenuhi kebutuhan masyarakat.
  4. Memperkuat neraca pembayaran.

Dampak negatif pembatasan impor adalah :

  1. Lesunya perdagangan internasional akibat terjadinya balas membalas kegiatan pembatasan kuota impor.
  2. Kurangnya peningkatan mutu produksi akibat produsen dalam negeri merasa tidak     mempunyai pesaing.

Kita ketahui bersama bahwa Indonesia menjalin kerjasama dalam hal perdagangan, baik impor maupun ekspor dengan beberapa Negara di dunia, baik Asia maupun Eropa. Cina merupakan salah satu Negara diantara beberapa Negara yang melakukan kerjasama tersebut. Kerjasama perdagangan yang telah lama terjalin antara Indonesia-cina, kini sedang menghadapi sebuah kendala, yaitu adanya diskrepansi yang terjadi antara pencatatan yang dilakukan oleh Cina dan Indonesia.

Hal ini tentunya menjadi suatu masalah yang perlu dicarikan solusi secepatnya, karena dapat menyebabkan keuangan Indonesia defisit, dan tentunya hal ini menjadi sesuatu yang merugikan Indonesia.

1.2     Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang kelompok kami akan kaji dalam kesempatan kali ini, adalah:

  1. Sejarah kerja sama bilateral perdagangan Indonesia – Cina
  2. Gambaran masalah yang ditimbulkan akibat dari Selisih perdagangan yang diskrepansi antara Indonesia – Cina
  3. Pentingnya penerapan nilai akuntansi dalam setiap transaksi

1.3     Tujuan penulisan

Tujuan penulisan makalah ini, tentunya untuk menjelaskan apa yang menjadi rumusan masalah di atas. Mengenai masalah yang sedang dihadapi oleh Indonesia akibat adanya diskrepansi atas pencatatan perdagangan dengan Cina.

\

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Perdagangan Internasional

          Perdagangan Internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dmaksud dapat berupa antar perorangan (individu dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain.Bila dibandingkan dengan pelaksanaan perdagangan di dalam negri, maka perdagangan internasional sangatlah rumit dan kompleks. Kerumitan ini disebabkan oleh faktor-faktor antara lain :

  1. Pembeli dan penjual terpisah oleh batas-batas kenegaraan
  2. Barang harus dikirim dan diangkut dari suatu negara kenegara lainnya melaluibermacam peraturan seperti pabean, yang bersumber dari pembatasan yang dikeluarkan oleh masing-masing pemerintah.
  3. Antara satu negara dengan negara lainnya terdapat perbedaan dalam bahasa, mata uang, taksiran dan timbangan, hukum dalam perdagangan dan sebagainya

 

2.2 Manfaat Perdagangan Internasional

            Setiap negara yang melakukan perdagangan dengan negara lain tertentu akan memperoleh manfaat bagi negara tersebut. Manfat tersebut antara lain :

  1. 1.     Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negri sendiri

Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan hasil produksi di setiap negara. Faktor-faktor tersebut diantaranya: Kondisi geografi, iklim, tingkat penguasaan IPTEK dan lain-lain. Dengan adanya perdagangan internasional, setiap negara mampu memenuhi kebutuhan yang tidak diproduksi sendiri.

  1. 2.     Memperoleh keuntungan dari spesialisasi

Sebab utama kegiatan perdagangan luar negri adalah untuk memperoleh keuntungan yang diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun suatu negara dapat memproduksi suatu barang yang sama jenisnya dengan yang diproduksi oleh negara lain, tapi ada kalanya lebih baik apabila negara tersebut mengimpor barang tersebut dari luar negri.Sebagai contoh :Amerika Serikat dan Jepang mempunyai kemampuan untuk memproduksi kain. Akan tetapi, Jepang dapat memproduksi dengan lebih efesien dari Amerika Serikat. Dalam keadaan seperti ini, untuk mempertinggi keefisienan penggunaan faktor-faktor produksi, Amerika Serikat perlu mengurangi produksi kainnya dan mengimpor barang tersebut dari Jepang. Dengan mengadakan spesialisasi dan perdagangan, setiap negara dapat memperoleh keuntungan sebagai berikut:

  1. a.     Faktor-faktor produksi yang dimiliki setiap negara dapat digunakan dengan lebih efesien.
  2. b.    Setiap negara dapat menikmati lebih banyak barang dari yang dapat diproduksi dalam negri.
  3. 3.     Memperluas Pasar dan Menambah Keuntungan

Terkadang, para pengusaha tidak menjalankan mesin-mesinnya (alat produksinya) dengan maksimal karena mereka khawatir akan terjadi kelebihan produksi, yang mengakibatkan turunnya harga produk mereka. Dengan adanya perdagangan internasional, pengusaha dapat menjalankan mesin-mesinnya secara maksimal, dan menjual kelebihan produk tersebut keluar negri.

  1. 4.     Transfer teknologi modern

Perdagangan luar negri memungkinkan suatu negara untuk mempelajari teknik produksi yang lebih efesien dan cara-cara manajemen yang lebih moderen.

            Membahas tentang perdagangan internasional tentunya tidak terlepas dari pembicaraan mengenai kegiatan ekspor impor. Dalam melakukan kegiatan ekspor impor tersebut perlu diperhatikan ketentuan-ketentuan yang berlaku di bidang tersebut.

 

Jurnal Akuntansi Internasional

Sebagai akuntansi untuk transaksi antar negara, pembandingan prinsip-prinsip akuntansi di negara-negara yang berlainan dan harmonisasi standar akuntansi di seluruh dunia. Suatu perusahaan mulai terlibat dengan akuntansi internasional adalah pada saat mendapatkan kesempatan melakukan transaksi ekspor atau impor. Ekspor diartikan sebagai penjualan ke luar negeri dan dimulai saat perusahaan penjual domestic mendapatkan order pembelian dari perusahaan pembeli asing. Kesulitan – kesulitan mulai timbul pada saat perusahaan domestik ingin melakukan investigasi terhadap kelayakan perusahaan pembeli asing. Jika pembeli diminta untuk memberikan informasi finansial berkaitan dengan perusahaannya, ada kemungkinan bahwa informasi finansial tersebut tidak mudah diinterpretasikan, mengingat adanya asumsi-asumsi akuntansi dan prosedur akuntansi yang tidak lazim di perusahaan penjual.

Sebagian besar perusahaan yang baru terjun di bisnis internasional bisa meminta bantuan kepada bank atau kantor akuntan dengan keahlian internasional untuk menganalisis dan mengintepretasikan informasi finansial tersebut. Hal lain yang harus diantisipasi adalah jika pembeli membayar dalam mata uang asing. Misalnya, sebuah perusahaan di Indonesia melakukan ekspor hasil produksinya kepada perusahaan di Amerika Serikat, dan pembeli membayar dalam dollar Amerika Serikat. Perusahaan domestik harus mengantisipasi adanya rugi atau untung potensial yang mungkin timbul karena perubahan nilai tukar antara saat order pembelian dicatat dengan saat pembayaran diterima.

Pelaksanaan ekspor melibatkan banyak pihak seperti perusahaan pengiriman,

asuransi, bea cukai serta dokumen-dokumen penunjang lainnya yang disyaratkan luas di seluruh dunia. Dalam hal ini tentunya juga perlu adanya antisipasi atas segala biaya yang pada umumnya melibatkan pemakaian mata uang yang berbeda. Untuk impor, kondisi-kondisi di atas sebaliknya akan ditemui oleh perusahaan penjual asing. Kondisi yang harus dipertimbangkan oleh perusahaan pembeli domestik adalah nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing yang disepakati sebagai denominasi pembayaran. Termasuk di dalamnya adalah pembayaran kepada forwarder dan perusahaan pengiriman jika impor dilakukan dengan syarat free on board. Keterlibatan perusahaan dalam akuntansi internasional juga tidak dapat dihindarkan saat perusahaan membuka operasi di luar negeri, baik yang hanya berupa pemberian lisensi produksi terhadap perusahaan milik pihak lain di luar negeri maupun pendirian anak perusahaan di luar negeri. Dalam hal pemberian lisensi, perusahaan perlu mengembangkan sistem akuntansi yang memungkinkan pemberi lisensi untuk melakukan pengawasan atas pelaksanaan perjanjian kerja, pembayaran royalty dan bimbingan teknis serta pencatatan pendapatan dari luar negeri dalam kaitannya dengan pajak yang harus dibayar perusahaan.

Akuntansi untuk operasi anak perusahaan di luar negeri harus sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan oleh pemerintah dan institusi yang berwenang di negara yang bersangkutan, yang berbeda dengan aturan-aturan di negara induk perusahaan. Selain itu harus dibuat juga sistem informasi manajemen untuk memonitor, mengawasi dan mengevaluasi operasi anak perusahaan serta membuat sistem untuk melakukan konsolidasi hasil operasi perusahaan induk dan anak.

Akuntansi internasional menjadi semakin penting dengan banyaknya perusahaan multinasional (multinational corporation) atau MNC yang beroperasi di berbagai negara di bidang produksi, pengembangan produk, pemasaran dan distribusi. Di samping itu pasar modal juga tumbuh pesat yang ditunjang dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi sehingga memungkinkan transaksi di pasar modal internasional berlangsung secara real time basis.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi Sistem Akuntansi :

Seperti halnya dunia bisnis pada umumnya, praktik-praktik akuntansi beserta pengungkapan informasi finansial di perusahaan di berbagai negara dipengaruhi oleh berbagai faktor. Radebaugh dan Gray (1997:47) menyebutkan sedikitnya ada empat belas faktor yang mempengaruhi sistem akuntansi perusahaan. Faktor-faktor tersebut adalah sifat kepemilikan perusahaan, aktivitas usaha, sumber pendanaan dan pasar modal, sistem perpajakan, eksistensi dan pentingnya profesi akuntan, pendidikan dan riset akuntansi, sistem politik, iklim sosial, tingkat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, tingkat inflasi, sistem perundang-undangan, dan aturan-aturan akuntansi. Lebih rinci, Radebaugh dan Gray menjelaskan hubungan antara faktor-faktor tersebut di atas dengan sistem akuntansi perusahaan sebagai berikut :

Sifat kepemilikan perusahaan

Kebutuhan akan pengungkapan informasi dan pertanggungjawaban kepada publik lebih besar ditemui pada perusahaan-perusahaan yang dimiliki publik dibandingkan dengan pada perusahaan keluarga.

Aktivitas usaha

Sistem akuntansi dipengaruhi oleh jenis aktivitas usaha, misalnya agribisnis yang berbeda dengan manufaktur, atau perusahaan kecil yang berbeda dengan perusahaan multinasional.

Sumber pendanaan

Kebutuhan akan pengungkapan informasi dan pertanggungjawaban kepada publik lebih besar ditemui pada perusahaan-perusahaan yang mendapatkan sumber pendanaan dari para pemegang saham eksternal dibandingkan dengan pada perusahaan dengan sumber pendanaan dari perbankan atau dari dana keluarga.

Sistem perpajakan

Negara-negara seperti Perancis dan Jerman menggunakan laporan keuangan perusahaan sebagai dasar penentuan utang pajak penghasilan, sedangkan negara-negara seperti Amerika Serikat dan Inggris menggunakan laporan keuangan yang telah disesuaikan dengan aturan perpajakan sebagai dasar penentuan utang pajak dan disampaikan terpisah dengan laporan keuangan untuk pemegang saham.

Eksistensi dan pentingnya profesi akuntan

Profesi akuntan yang lebih maju di negara-negara maju juga membuat system akuntansi yang dipakai lebih maju dibandingkan dengan di negara-negara yang masih menerapkan sistem akuntansi yang sentralistik dan seragam.

Pendidikan dan riset akuntansi

Pendidikan dan riset akuntansi yang baik kurang dijalankan di negara-negara yang sedang berkembang. Pengembangan profesi juga dipengaruhi oleh pendidikan dan riset akuntansi yang bermutu.

Sistem politik

Sistem politik yang dijalankan oleh suatu negara sangat berpengaruh pada sistem akuntansi yang dibuat untuk menggambarkan filosofi dan tujuan politik di negara tersebut, seperti halnya pilihan atas perencanaan terpusat (central planning) atau swastanisasi (private enterprises).

Iklim sosial

Iklim sosial diartikan sebagai sikap atas penghargaan terhadap hak-hak pekerja dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Informasi yang berkaitan dengan hal-hal tersebut pada umumnya dipengaruhi atas sistem sosial tersebut.

Tingkat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan

Perubahan struktur perekonomian dari agraris ke manufaktur akan menampilkan sisi lain dari sistem akuntansi, antara lain dengan mulai diperhitungkannya depresiasi mesin. Industri jasa juga memunculkan pertimbangan atas pencatatan aktiva tak berwujud seperti merek, goodwill dan sumber daya manusia.

Tingkat inflasi

Timbulnya hyperinflation di beberapa negara di kawasan Amerika Selatan membuat adanya pemikiran untuk menggunakan pendekatan lain sebagai alternatif dari pendekatan historical cost.

Sistem perundang-undangan

Di negara-negara seperti Perancis dan Jerman yang menggunakan civil codes, aturan-aturan akuntansi yang dipakai cenderung rinci dan komprehensif, berbeda dengan Amerika Serikat dan Inggris yang menggunakan common law.

Aturan-aturan akuntansi

Standar dan aturan akuntansi yang ditetapkan di negara tertentu tentunya tidak sepenuhnya sama dengan negara lain. Peran profesi akuntan dalam menentukan standar dan aturan akuntansi lebih banyak ditemukan di negara-negara yangtelah memasukkan aturan-aturan profesional dalam aturan-aturan perusahaan, seperti di Inggris dan Amerika Serikat. Sementara itu Christopher Nobes dan Robert Parker (1995:11)menjelaskan adanya tujuh faktor yang menyebabkan perbedaan penting yang berskala internasional dalam perkembangan sistem dan praktik akuntansi. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah (1) sistem hukum, (2) pemilik dana, (3) pengaruh system perpajakan, dan (4) kemantapan profesi akuntan. (5) inflasi, (6) teori akuntansi dan (7) accidents of history .

Sistem hukum

Peraturan perusahaan, termasuk dalam hal ini adalah sistem dan prosedur akuntansi, banyak dipengaruhi oleh sistem hukum yang berlaku di suatu negara. Beberapa negara seperti Perancis, Italia, Jerman, Spanyol, Belanda menganut Sistem hukum yang digolongkan dalam codified Roman law. Dalam codified law, aturan-aturan dikaitkan dengan ide dasar moral dan keadilan, yang cenderung menjadi suatu doktrin. Sementara itu negara-negara seperti Inggris, Amerika Serikat,dan negara-negara persemakmuran Inggris menganut sistem common law. Dalam common law, dicoba adanya suatu jawaban untuk kasus-kasus yang spesifik dan tidak membuat suatu formulasi umum.

Sumber pendanaan

Berdasarkan sumber pendanaan, perusahaan dapat dikelompokkan menjadi dua. Kelompok yang pertama adalah perusahaan yang mendapatkan sebagian besar dananya dari para pemegang saham di pasar modal (shareholder). Kelompok kedua adalah perusahaan yang mendapatkan sebagian besar dananya dari bank, negara atau dana keluarga. Umumnya di negara-negara dengan sebagian besar perusahaan yang dimiliki oleh shareholders namun para shareholders ini tidak mempunyai akses atas informasi internal, lebih banyak tuntutan atas adanya pengungkapan (disclosure), pemeriksaan (audit) dan informasi yang tidak bias (fair information).

Sistem perpajakan

Sejauh mana sistem perpajakan dapat mempengaruhi sistem akuntansi adalah dengan melihat sejauh mana peraturan perpajakan menentukan pengukuran akuntansi (accounting measurement). Di Jerman, pembukuan menurut pajak harus sama dengan pembukuan komersial. Sedangkan di banyak negara lain seperti Inggris, Amerika Serikat dan juga termasuk Indonesia, terdapat aturan – aturan yang berbeda antara perpajakan dan komersial perusahaan. Contoh yang paling jelas mengenai hal ini adalah depresiasi.

Profesi akuntan

Badan-badan yang dibentuk sebagai wadah profesi ternyata berbeda-beda di setiap negara, dan hasil yang berupa aturan-aturan atau standar dipengaruhi oleh bentuk, wewenang dan anggota dari badan-badan tersebut. Di beberapa negara ditemui adanya pemisahan profesi akuntan, sebagai ahli perpajakan atau hanya sebagai akuntan perusahaan. Anggota suatu badan yang mengatur standar akuntansi bisa terdiri hanya dari kalangan akuntan publik atau mengikutsertakan pihak-pihak dari kalangan dunia usaha, industri, pemerintah dan kalangan pendidik. Tingkat pendidikan dan pengalaman dalam dunia praktis sebagai syarat seseorang untuk bisa menjadi anggota badan tersebut juga akan menentukan kualitas standar dan aturan akuntansi sebagai keluaran yang dihasilkan.

Inflasi

Di negara-negara dengan tingkat inlasi mencapai ratusan persen setiap tahun, seperti di Amerika Selatan, penggunaan metode general price level adjustment menjadi relevan mengingat adanya kebutuhan untuk menganalisis laporan keuangan secara lebih tepat dibandingkan tetap menggunakan historical cost.

Teori Akuntansi

Teori akuntansi sangat mempengaruhi pelaksanaan praktik-praktik akuntansi seperti halnya yang terjadi di Belanda. Di negara ini para ahli teori akuntansi mengatakan bahwa pengguna laporan keuangan akan mendapatkan penilaian atas kinerja yang wajar dari sebuah perusahaan jika akuntan diperbolehkan untuk menggunakan judgment untuk memilih dan menampilkan angka-angka tertentu. Dalam hal ini disarankan penggunaan replacement cost information. Salah satu contoh pengaruh teori akuntansi terhadap praktik akuntansi adalah dengan disusunnya conceptual framework.

Accidents of History

Sistem dan praktik akuntansi tidak bisa lepas dari kondisi politik dan ekonomi di negara yang bersangkutan. Kejadian-kejadian tertentu biasanya memberikan pengaruh yang langsung terasa dalam penerapan metode tertentu. Krisis ekonomi di Amerika Serikat di akhir tahun 1920-an memunculkan standar akuntansi yang mengharuskan adanya pengungkapan (disclosure) data keuangan. Untuk Indonesia, krisis nilai tukar di pertengahan tahun 1997 menyebabkan munculnya pernyataan atau interpretasi yang berkaitan dengan penggunaan mata uang asing dalam pelaporan keuangan serta perlakuan atas selisih kurs. Kolonialisasi juga menyebabkan negara yang diduduki dengan sendirinya mengikuti sistem dan praktik akuntansi negara yang mendudukinya. Standar akuntansi tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan dan kondisi hukum, sosial dan ekonomi suatu negara tertentu. Hal-hal tersebut menyebabkan suatu standar akuntansi di suatu negara berbeda dengan di Negara lain. Globalisasi yang tampak antara lain dari kegiatan perdagangan antar Negara serta munculnya perusahaan multinasional mengakibatkan timbulnya kebutuhan akan suatu standar akuntansi yang berlaku secara luas di seluruh du

 

2.3 Ketentuan Ekspor-Impor

2.3.1 Bidang Ekspor

Ketentuan umum di bidang ekspor biasanya meliputi hal-hal yang berhubungan dengan proses pengiriman barang ke luar negri. Ketentuan tersebut meliputi antara lain:

  1. 1.           Ekspor

Perdagangan dengan cara mengeluarkanbarang dari dalam ke luar wilayah pabean Indonesia dengan memenuhi ketentuanyang berlaku.

  1. 2.           Syarat-syarat Ekspor
  2. Memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)

B.  Mendapat izin usaha dari Dept. Teknis/Lembaga    Pemerintah Non-Dept

C. Memiliki izin ekspor berupa :

v APE (Angka Pengenal Ekspor) untuk Eksportir Umum berlaku lima tahun.

v APES (Angka Pengenal Ekspor Sementara) berlaku dua tahun

v APET (Angka Pengenal Ekspor Terbatas) untuk PMA/PMDN

  1. 3.           Eksportir

Pengusaha yang dapat melakukan ekspor, yang telah memiliki SIUP atau izin usaha dari Dept. Teknis/LembagaPemerintah Non-Dept berdasarkan ketentuan yang berlaku.

4.       Eksportir Terdaftar (ET)

Perusahaan yang telah mendapat pengakuan dari Menteri Perdagangan untuk mengekspor barang tertentu sesuai ketentuan yang berlaku.

  1. 5.             Barang Ekspor

Seluruh jenis barang yang terdaftar sebagai barang ekspor dan sesuai dengan ketentuan perpajakan dan kepabeanan yang berlaku. 

 

2.3.2 Bidang Impor

Ketentuan umum di bidang Impor biasanya meliputi hal-hal yang berhubungan dengan proses pengiriman barang ke dalam  negri. Ketentuan tersebut meliputi antara lain:

  1. 1.           Impor

Perdagangan dengan cara memasukan barang dari luarnegri ke dalam wilayah pabean Indonesia dengan memenuhi ketentuanyang berlaku.

  1. 2.           Syarat-syarat Impor

a.   Memiliki izin ekspor berupa :

v API (Angka Pengenal Impor) untuk Importir Umum berlaku selama perusahaan menjalankan usaha.

v APIS (Angka Pengenal Impor Sementara)berlaku untuk jangka waktu 2 tahun dan tidak dapat diperpanjang.

v API(S) Produsen untuk perusahaan diluar PMAatau PMDN.

v APIT (Angka Pengenal Impor Terbatas) untukperusahaan  PMA/PMDN

         b.   Persyaratan untuk memperoleh APIS :

v  Memiliki SIUP perusahaan besar atau menengah

v  Keahlian dalam perdagangan impor

v  Referensi bank devisa

v  Bukti kewajiban pajak (NPWP)

 

 

 

c.   Persyaratan untuk memperoleh API :

v  Wajib memiliki APIS

v  Telah melaksanakan impor sekurang 4 kali dan telah mencapai nilai nominal US$ 100.000,00

v  Tidak pernah ingkar kontrak impor.

  1. 3.           Importir

Pengusaha yang dapat melakukan kegiatan perdagangan dengan cara memasukan barang dari luar negri ke dalam wilayah pabean Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku.

Kategori Importir meliputi : Importir Umum, Importir Umum +, Importir Terdaftar, Importir Produsen, Produsen Importir dan Agen Tunggal.

  1. 4.           Barang Impor

Seluruh jenis barang yang terdaftar sebagai barang impor dan sesuai dengan ketentuan perpajakan dan kepabeanan yang berlaku. 

Perdagangan internasional atau antara negara dapat dilakukan dengan berbagai macam cara diantaranya :

  1. 1.            Ekspor

Dibagi dalam beberapa cara antara lain :

  1. a.            Ekspor Biasa

Pengiriman barang keluar negri sesuai dengan peraturan yang berlaku, yang ditujukan kepada pembeli di luar negri, mempergunakan L/C dengan ketentuan devisa.

  1. b.            Ekspor Tanpa L/C

Barang dapat dikirim terlebih dahulu, sedangkan eksportir belum menerima L/C harus ada ijin khusus dari departemen perdagangan

  1. 2.            Barter

Pengiriman barang ke luar negri untuk ditukarkan langsung dengan barang yang dibutuhkan dalam negri.

Jenis barter antara lain :

  1. a.            Direct Barter                                                                          

Sistem pertukaran barang dengan barang dengan menggunakan alat penetu nilai atau lazim disebut dengan denominator of valuesuatu mata uang asing dan penyelesaiannya dilakukan melalui clearing pada neraca perdagangan antar kedua negara yang bersangkutan.

  1. b.            Switch Barter

Sistem ini dapat diterapkan bilamana salah satu pihak tidak mungkin memanfaatkan sendiri barang yang akan diterimanya dari pertukaran tersebut, maka negara pengimpor dapat mengambil alih barang tersebut ke negara ketiga yang membutuhkannya.

  1. c.             Counter Purchase

Suatu sistem perdagangan timbal balik antar dua negara. Sebagai contoh suatu negara yang menjual barang kepada negara lain, mka negara yang bersangkutan juga harus membeli barang dari negara tersebut.

  1. d.            Buy Back Barter

Suatu sistem penerapan alih teknologi dari suatu negara maju kepada negara berkembang dengan cara membantu menciptakan kapasitas produksi di negara berkembang , yang nantinya hasil produksinya ditampung atau dibeli kembali oleh negara maju.

  1. 3.            Konsinyasi (Consignment)

Pengiriman barang dimana belum ada pembeli yang  tertentu di LN. Penjualan barang di luar negri dapat dilaksanakan melalui Pasar Bebas (Free Market) atau Bursa Dagang ( Commodites Exchange)   dengan  cara lelang. Cara pelaksanaan lelang pada umumnya sebagai berikut :

  1. a.            Pemilik brang menunjuk salah satu broker yang ahli dalah salah satu komoditi.
  2. b.            Broker memeriksa keadaan barang yang akan di lelang terutama mengenai jenis dan jumlah serta mutu dari barang tersebut.
  3. c.             Broker meawarkan harga transaksi atas barang yang akan dijualnya,harga transaksi ini disampaikan kepada pemilik barang.
  4. d.            Oleh panitia lelang akan ditentukan harga lelang yang telah disesuaikan dengansituasi pasar serta serta kondisi perkembangan dari barang yang akan dijual. Harga ini akan menjadi pedoman bagi broker untuk melakukan transaksi.
  5. e.             Jika pelelangan telah dilakukan broker berhak menjual barang yang mendapat tawaran dari pembeli yang sana atau yang melebihi harga lelang.
  6. f.             Barang-barang yang ditarik dari pelelangan masih dapat dijual di luar lelang secara bawah tangan
  7. g.            Yang  diperkenankan ikut serta dalam pelalangan hanya anggita yang tergabung dalam salah satu commodities exchange untuk barang-barang tertentu.
  8. h.            Broker mendapat komisi dari hasil pelelangan yang diberikan oleh pihak yang diwakilinya.
    1. 4.            Package Deal

Untuk memperluas pasaran hasil kita terutama dengan negara-negara sosialis, pemerintah adakalanya mengadakan perjanjian perdagangan ( rade agreement) dengan salah saru negara. Perjanjian itu menetapkan junlah tertentu dari barang yang akan di ekspor ke negara tersebut dan sebaliknya dari negara itu akan mengimpor sejumlah barang tertentu yang dihasilkan negara tersebut.

  1. 5.            Penyelundupan (Smuggling)

Setiap usaha yang bertujuan memindahkan kekayaan dari satu negara ke negara lain tanpa memenuhi ketentuan yang berlaku. Dibagi menjadi 2 bagian :

  1. a.            Seluruhnya dilakuan secara ilegal
  2. b.            Penyelundupan administratif/penyelundupan tak kentara/ manipulasi (Custom Fraud)
  3. 6.            Border Crossing

Bagi negara yang berbatasan yang dilakukan dengan persetujuan tertentu (Border Agreement), tujuannya pendudukan perbatasan yang saling berhubungan diberi kemudahan dan kebebasan dalam jumlah tertentu dan wajar. Border Crossing dapat terjadi melalui :

  1. a.            Sea Border (lintas batas laut)

Sistem perdagangan yang melibatkan dua negara yang memiliki batas negara berupa lautan, perdagangan dilakukan dengan cara penyebrangan laut.

  1. b.            Overland Border (lintas batas darat)

Sistem perdagangan yang melibatkan dua negara yang memiliki batas negara berupa daratan, perdagangan dilakukan dengan cara setiap pendudik negara tersebut melakukan interaksi dengan  melewati batas daratan di masing masing negara melalui persetujuan yang berlaku.

 

BAB  III

PEMBAHASAN

 

2.4. Masalah Yang Timbul Dalam Ekspor-Impor

2.4.1 Faktor Eksternal

         Masalah yang bersifat eksternal meliputi hal-hal yang terjadi di luar perusahaan yang akan mempengaruhi kegiatan ekspor impor. Masalah tersebut antara lain :

  1. 1.            Kepercayaan Antara Eksportir Importir

Kepercayaan adalah salah satu faktor eksternal yang penting untuk menjamin terlaksananya transaksi antara eksportir dan importir. Dua pihak yang tempatnya berjauhan dan belum saling mengenal merupakan suatu resiko bila dilibatkan dengan pertukaran barang dengan uang. Apakah importir percaya untuk mengirimkan uang terlebih dahulu kepada eksportir sebelum barang dikirim atau sebaliknya apakah eksportir mengirimkan barang terlebih dahulu kepada importir sebelum melakukan pembayaran.

Oleh karena itu, sebelum kontrak jual beli diadakan masing-masing pihak harus sudah mengetahui kredibilitas masing-masing.Beberapa cara yang lazim dilakukan untuk mencari kontrak dagang antara lain :

  1. memanfaatkan buku petunjuk perdagangan yang berisi nama, alamat, dan jenis usaha.
  2. Mencari dan mengunjungi perusahaan di negara lain.
  3. meminta bantuan bank di dalam negri yang selanjutnya mengadakan kontak dengan bank korespondennya di luar negri untuk menghubungkan nasbah kedua bank.
  4. Membaca publikasi dagang dalam dan luar negri.
  5. Konsultasi dengan pengusaha dalam bidang yang sama.
  6. Melalui perwakilan perdagangan.
  7. Iklan

Pada dasarnya faktor kepercayaan ini lebih dititikberatkan pada kemampuan kedua belah pihak baik eksportir maupun importir dalam menilai kredibilitas masing-masing.

  1. 2.            Pemasaran

Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam masalah ono adalah ke negara mana barng akan dipasarkan untuk mendapatkan harga yang sebaik-baiknya. Sebaliknya bagi importir yang penting diketahui adalah dari mana barang-barang tertentu sebaiknya akan diimpor untuk memperoleh kondisi pembayaran yang lebih baik. Dalam hal penetapan harga komoditi ekspor dan konsep pemasarannya, eksportir perlu mengetahui apakah dapat bersaing dalam penjualannya di luar negri, dengan mengetahui informasi mengenai :

  1. ongkos atau biaya barang
  2. sifat dan tingkat persaingan
  3. luas dan sifat permintaan

Sedangkan penentuan jenis-jenis barang didasarkan pada informasi mengenai :

  1. peraturan perdagangan negara setempat
  2. pembatasan mutu dan volume barang-barang tertentu
  3. kontinuitas produksi barang
  4. negara tujuan barang-barang ekspor

Masalah pokok lain dalam hal pemasaran yang sering dihadapi oleh eksportir maupun importir adalah daya saing, yang meliputi :

  1. Daya saing rendah dalam harga dan waktu penyerahan
  2. Daya saing dianggap sebagai masalah intern eksportir, padahal sesungguhnya menjadi masalah nasional
  3. Saluran pemasaran tidak berkembang di luar negri
  4. Kurangnya pengetahuan akan perluasan pemasaran serta teknik-teknik pemasaran
  5. 3.            Sistem Kuota dan Kondisi Hubungan Perdagangan Dengan Negara Lain

Keinginan Eksportir dan importir untuk mencari, memelihara atau meningkatkan hubungan dagang dengan sesamanya juga tergantung pada kondisi negara kedua pihak yang bersangkutan. Bilamana terdapat pembatasan seperti ketentuan kuota barang dan kuota negara, maka upaya meningkatkan transaksi yang saling menguntungkan tidak sepenuhnya dapat terlaksana.

Upaya yang dapat dilakukan oleh setiap negara adalah dengan meningkatkan hubungan antar negara baik yang bersifat bilateral, multilateral, regional maupun internasional, guna menciptakan suatu turan dalam hal pembatasan barang (kuota) bagi transaksi perdaganga. Hal ini membuktikan bahwa pembatasan terhadap barang-barang yang masuk ke suatu negara serta hubungan antara negara tempat terjadinya perdagangan menjadi faktor penentu kelancaran proses ekspor impor.

  1. 4.           Keterkaitan Dalam Keanggotaan Organisasi Internasional

Keikutsertaan suatu negara dalam organisasi internasional dimaksudkan untuk mengatur stabilitas harga barang ekspor di pasar internasional. Namun terlepas dari manfaat yang diperoleh dari keanggotaan organisasi tersebut, keanggotaan didalamnya tak jarang merupakan penghambat untuk dapat melakukan tindakan tertentu bagi peningkatan transaksi komoditi yang bersangkutan, seperti contoh ICO dengan kuota kopi, serta penentuan harga yang lebih bersaing yang sering dihadapi anggota-anggota OPEC.

  1. 5.           Kurangnya Pemahaman Akan Tersedianya Kemudahan-kemudahan Internasional

Kemudahan-kemudahan internasional seperti ASEAN Preferential Trading Arrangement yang menyediakan kemudahan trarif sangat berguna bagi pengembangan perdagangan antara negara ASEAN. Kemudahan tarif yang disediakan bersifat timbal balik dan pemanfaatannya dilakukan dengan menerbitkan Formulir C oleh negara asal barang. Juga adanya tax treaty antar negara-negara tersebut.

2.4.2 Faktor Internal                                        

         Keharusan perusahaan-perusahaan ekspor impor untuk memenuhi persyaratan berusaha adakalanya tidak mendapat perhatian sungguh-sungguh. Persiapan teknis yang seharusnya telah dilakukan diabaikan karena diburu oleh tujuan yang lebih utama yakni mendapatkan keuntungan yang cepat dan nyata.

Masalah yang bersifat internal meliputi hal-hal yang terjadi di dalam perusahaan yang akan mempengaruhi kegiatan ekspor impor. Masalah tersebut antara lain:

  1. 1.            Persiapan Teknis

Menyangkut persyaratan-persyaratan dasar untuk pelaksanaan transaksi ekspor impor berupa :

  1. Status badan hukum perusahaan
  2. Adanya izin usaha (SIUP) serta izin ekspor maupun impor (APE,APES, API, APIS, APIT)
  3. Kemapuan menyiapkan persyaratan-persyaratan lain seperti dokumen pengapalan, realisasi pengapalan serta kejujuran dan kesungguhan berusaha termasuk itikad baik.

Dari sisi eksportir terkadang masalah yang timbul adalah kemampuang yang bersangkutan dalam menyiapkan dokumen-dokumen pengapalan serta itikad baik dan kejujuran untu mengirimkan barangnya.Perusahaan ekspor impor haruslah menjaga reputasi perusahannya, disamping itu untuk menjamin kelangsungan izin usahanya maka kontinuitas aktivitas–aktivitas transaksinya harus dipertahankan dan ditingkatkan.

  1. 2.            Kemampuan dan Pemahaman Transaksi Luar Negri

Keberhasilan transaksi ekspor impor sangat didukung oleh sejauhmana pengetahuan atau pemahaman eksportir/importir menyangkut dasar-dasar transaksi ekspor impor, tata cara pelaksanaan, pengisian dokumen serta peraturan-peraturan dalam dan luar negri.

  1. 3.            Pembiayaan

Pembiayaan transaksi merupakan masalah yang penting yang tidak jarang dihadapi oleh para pengusaha eksportir/importir kita. Biasanya masalah yang dihadapi antaralain ketercukupan akan dana, fasilitas pembiayaan dana yang dapat di peroleh serta bagaimana cara memperolehnya. Dalam hal ini para pengusaha harus mampu mengatur keuangannya secara bijak dan mempelajari serta memanfaatkan kemungkinan fasilitas-fasilitas pembiayaan untuk pelaksanaan transaksi-transaksi yanmg dilakukan.

Menyangkut bagaimana para eksportir/importir membiayai transaksi perdagangan.

  1. 4.            Kekurangsempurnaan Dalam Mempersiapkan Barang

Khusus dalam transaksi ekspor, kurang mampunya eksportir dalam menanggulangi penyiapan barang dapat menimbulkn akibat yang tidak baik bagi kelangsungan hubungan transaksi dengan rekannya di luar negri.

Masalah-masalah yang timbul adalah akibat dari hal-hal berikut :

a.      Pengiriman barang terlambat disebabkan oleh kesulitas administrasi dan pengaturan pengangkutan, peraturan-peraturan pemerintad dan sebagainya.

b.      Mutu barang yang tidak dapat dipertahankan sesuai dengan perjanjian

c.      Kelangsungan penyediaan barang sesuai dengan perjanjian tidak dapat dipenuhi.

d.      Pengepakan yang tidak memenuhi syarat

e.      Keterlambatan dalam pengiriman dokumen-dokumen pengapalan.

  1. 5.            Kebijaksanaan Dalam Pelaksanan Ekspor Impor

Kelancaran transaksi ekspor impor sangat tergantung pada peraturan-peraturan yang mendasarinya. Peraturan-peraturan yang apabila sering berubah-ubah dapat membingungkan dan menimbulkan salah pengertian dan kekliruan, baik di pihak pengusaha di dalam negri maupun pengusaha d luar negri. Diperlukan penjelasan yang cukup tentang latar belakang perubahan-perubahan dan tujuannya, sehingga masing-masing pihak memaklumi dan mengetahui aturan main dalam transaksi selanjutnya.

2.5 Mengenai Indonesia-Cina

2.5.1 Sejarah kerja sama bilateral perdagangan Indonesia – Cina

Hubungan Indonesia China memiliki akar sejarah yang panjang, hubungan yang dapat ditelusuri sampai abad-abad pertama Masehi.Interaksi antara nenek moyang bangsa China dengan nenek moyang bangsa Indonesia telah dimulai sejak 2000 tahun lalu.Hubungan erat ini menemukan momentum simboliknya dalam kisah perjalanan muhibah Cheng Ho yang sangat masyhur pada abad 14.

Salah satu bukti budaya yang menunjukkan interaksi itu adalah bedug yang digunakan (hanya) oleh masjid-masjid di Indonesia.Bedug itu merupakan bawaan dari China. Kong Yuanzhi juga memperlihatkan, adanya aneka kontak antara penduduk di Daratan China dan Kepulauan Nusantara, juga pada saat China memasuki zaman keemasan Dinasti Tang, Dinasti Ming dan Dinasti Qing.Pada masa Moh.Hatta menjadi Perdana Menteri, Indonesia secara resmi mengakui kedaulatan China yaitu pada tanggal 15 Januari 1950.Indonesia tercatat sebagai negara pertama yang mengakui berdirinya China baru di bawah pemerintahan komunis.Lalu pada tahun 1953 Indonesia mengirim Arnold Mononutu, sebagai Duta Besar Indonesia ke Beijing, China.Pengiriman Mononutu sebagai Duta Besar Indonesia pertama tersebut menandai mulai eratnya Namun, hubungan resmi antarnegara dapat dikatakan baru dimulai pada tahun 1950.

Pada masa Moh.Hatta menjadi Perdana Menteri, Indonesia secara resmi mengakui kedaulatan China yaitu pada tanggal 15 Januari 1950.Indonesia tercatat sebagai negara pertama yang mengakui berdirinya China baru di bawah pemerintahan komunis. Lalu pada tahun 1953 Indonesia mengirim Arnold Mononutu, sebagai Duta Besar Indonesia ke Beijing, China. Pengiriman Mononutu sebagai Duta Besar Indonesia pertama tersebut menandai mulai eratnya hubungan kedua Negara.Peristiwa itu diikuti dengan penandatanganan nota kerjasama RI-China, dan penggantian Duta Besar China untuk Indonesia. Kemudian pada awal 1960-an tercipta poros Jakarta-Peking yang berkembang menjadi poros Jakarta-Peking-Pyongyang. China terus berupaya memperbaiki hubungannya dengan berbagai Negara melalui berbagai bidang. Dengan Indonesia dipakai ”diplomasi dagang”. Kontak langsung pertama yang disiarkan adalah kehadiran delegasi Kamar Dagang Indonesia (KADIN) di Pameran Dagang Guangzhou, pada bulan November 1977.Sejak itu, terjadilah kontak-kontak personal ataupun organisasional lainnya. Semula prospek kontak-kontak ini sangat fluktuatif tergantung pada isu-isu politik domestik yang menyertainya, namun sejalan dengan besarnya keuntungan yang diperoleh kedua pihak, pada tahun 1984 menteri luar negeri Indonesia mulai mengajukan usulan pentingnya pembukaan hubungan dagang langsung dengan China.

Lewat gerak cepat Sukamdani, KADIN berhasil membuat terobosan penting dengan menjalin hubungan dagang dengan rekannya di China.Maka pada tahun 1985 hubungan dagang antara RI-China resmi dibuka.Catatan statistic Neraca perdagangan antarkedua negara yang terlihat menurun pada tahun 1960, sejak tahun 1963 kembali meningkat dan melonjak cukup pesat pada tahun 1965. Namun, hubungan baik ini terputus akibat terjadinya kudeta ”Gerakan 30 September” yang kemudian ditengarai sebagai gerakan Partai Komunis Indonesia untuk menggulingkan Hubungan baik RI-China berakhir dengan pembekuan hubungan dua negara pada bulan Oktober 1967. China terus berupaya memperbaiki hubungannya dengan berbagai Negara melalui berbagai bidang. Dengan Indonesia dipakai ”diplomasi dagang”. Kontak langsung pertama yang disiarkan adalah kehadiran delegasi Kamar Dagang Indonesia (KADIN) di Pameran Dagang Guangzhou, pada bulan November 1977.Sejak itu, terjadilah kontak-kontak personal ataupun organisasional lainnya. Semula prospek kontak-kontak ini sangat fluktuatif tergantung pada isu-isu politik domestik yang menyertainya, namun sejalan dengan besarnya keuntungan yang diperoleh kedua pihak, pada tahun 1984 menteri luar negeri Indonesia mulai mengajukan usulan pentingnya pembukaan hubungan dagang langsung dengan China. Lewat gerak cepat Sukamdani, KADIN berhasil membuat terobosan penting dengan menjalin hubungan dagang dengan rekannya di China.Maka pada tahun 1985 hubungan dagang antara RI-China resmi dibuka. Pada era 1992-2002 perdagangan bilateral Indonesia-China meningkat dari 2 miliar sampai AS $8 miliar dan investasi China juga meningkat dari AS$282 juta (1999) menjadi AS$6,8 miliar (2003). Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik ( BPS ), antara tahun 2003 hingga 2004, atau masa setelah pelaksanaan tahap awal dari ACFTA, atau EHP, pada bulan Januari 2004 dan tidak lama setelah itu, ekspor Indonesia ke China meningkat sebanyak 232,2 %, sedangkan impornya dari China meningkat hanya sebesar 38,67% saja. Rata-rata pertumbuhan perdagangan Indonesia-China (2003-2005) berkisar AS $31,64 miliar. Secara keseluruhan total volume perdagangan antara Indonesia dan China pada tahun 2004, terhitung menjadi AS$ 13,47 milyar, atau peningkatan sebesar 31,8 persen dari tahun sebelumnya, dan hampir sama dengan volume perdagangan Indonesia dan AS, yang terhitung mencapai AS$ 13,5 milyar.

Sementara itu, dari sisi pandang China, Indonesia kini masuk pada peringkat ke-17, sebagai negara penerima ekspor negara itu, dengan nilai sebesar AS$ 3,59 milyar, atau peningkatan sekitar 1,01 persen dari total ekspor China ke seluruh dunia. Umumnya perdagangan bilateral semakin bertambah dengan cepat hingga mencapai AS$ 10 milyar, termasuk perdagangan melalui Hong Kong,  sedangkan penanaman modal China di Indonesia kini mencapai total kumulatif sebesar AS$ 282 milyar. 55 Peningkatan hubungan Indonesia-China mencapai klimaksnya dengan ditandatanganinya Strategic Partnership Agreement antara Indonesia-China pada tanggal 25 April 2005, saat Presiden hu Jin Tao berkunjung ke Indonesia. Kemitraan Strategis ini akan difokuskan untuk memperkuat kerjasama politik dan keamanan, memperdalam kerjasama ekonomi dan pembangunan, meningkatkan kerjasama sosial budaya, dan memperluas hubungan nonpemerintah.  Ada tiga bidang luas yang dicakup dalam perjanjian kemitraan strategis ini, yaitu kerjasama politik dan keamanan, kerjasama ekonomi dan pembangunan dan kerjasama sosial budaya.

 

2.5.2 Perdagangan Indonesia-Cina

Data perdagangan Indonesia dan China berselisih jauh.Sepanjang triwulan I tahun 2012 ini, baik Indonesia maupun China menyatakan defisit dalam neraca perdagangan kedua negara. Catatan Bloomberg, sampai akhir Maret 2012, neraca perdagangan China-Indonesia defisit US$ 580 juta di pihak China. Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia tekor US$ 1,65 miliar dari neraca dagangnya dengan China. Entah data mana yang bisa dipercaya.

Aviliani, Sekretaris Komite Ekonomi Nasional berpendapat, perbedaan data itu lebih karena seleksi dokumen ekspor-impor di Indonesia masih lemah. “Di China, seleksi dokumen sangat ketat. Sedangkan ekspor Indonesia sering tidak lengkap dan tak tercatat,” ujarnya, kemarin.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengaku, data hasil pencatatan BPS sangat bisa dipercaya.”Intinya, ada perbedaan mekanisme penghitungan dan ada penambahan nilai terhadap ekspor kita sebelum tiba di negara tujuan akhir,” ujarnya ke KONTAN.Meski begitu, pemerintah tidak tinggal diam. Deddy Saleh, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemdag menyatakan tengah mengkaji perbedaan data ini.

Ada beberapa kemungkinan mengapa terjadi perbedaan data.Pertama, perbedaan waktu pencatatan. “Misalnya, ekspor dari kita akhir Maret, sampai ke China bulan April, maka di sana dicatat impor April,” terang Deddy.Kedua, ada perbedaan metode pencatatan. Kalau Indonesia mencatat ekspor lewat metode free on board (FOB), di China pencatatan impor pakai sistem cost insurance and freight (CIF). Di luar itu, Dedi tak menampik kemungkinan adanya penyelundupan ekspor ke China.Sisi positifnya, perbedaan data ini bisa membuka negosiasi perdagangan IndonesiaChina.Syaratnya harus ada akurasi data. Untuk itu, “Kami akan melakukan pengecekan data dengan sumber lain, seperti WTO (organisasi perdagangan dunia), WCO (organisasi pabean dunia), dan World Bank,” kata Dedi.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementeria Perdagangan Gusmardi Bustami mengatakan kedua negara terus berupaya meningkatkan perdagangan melalui berbagai penjajakan.Presiden SBY sudah mengunjungi China dan menargetkan total perdagangan kedua negara bisa mencapai US$80 miliar pada 2015,” katanya seusai pertemuan dengan China Chamber of Commerence Ffor Import & Export, Kamis 7 Juni. Kunjungan CCCT tersebut merupakan tindak lanjut dari Memorandum of Understanding on Trade Cooperation in Textile and Chloting yang ditandatangani oleh Asosiasi Pertekstilan Indonesia dan CCCT pada 29 April 2011. Gusmardi mengatakan realisasi nilai ekspor Indonesia ke China pada kuartal I/2012 tercatat sebesar US$5,1 miliar dan impor senilai US$6,6 miliar.

Realisasi perdagangan tersebut membuat neraca Indonesia defisit US$1,5 miliar. China, katanya, merupakan mitra tepat bagi Indonesia yang berupaya mengembangkan perdagangan kedua negara, terutama sektor TPT.Rencananya, Kemendag, API, BKPM, dan Kemenperin akan membuat tim kecil untuk menindak lanjuti rencana investasi sektor TPT dari China tersebut. Ade Sudrajat Usman, Ketua API, mengatakan kerja sama perdagangan ini akan menguntungkan Indonesia dalam jangka panjang. “Tidak mungkin neraca perdagangan Indonesia dengan China seimbang dalam waktu dekat.Tapi, kami perkirakan dalam 10 tahun mendatang ekspor Indonesia ke China akan lebih besar dibandingkan China ke Indonesia,” katanya.

Ade mengatakan neraca perdagangan TPT Indonesia dengan China terus mengalami defisit. Pada 2009, atau sebelum diberlakulannya perdagangan bebas antardua negara, realisasi impor China untuk TPT mencapai US$1,03 miliar. Sedangkan ekspornya tercatat hanya US$180 juta.Setelah ACFTA berlaku, lanjutnya, ketimpangan neraca perdagangan Indonesia masih terjadi. Pada 2011 tercatat realisasi nilai ekspor produk TPT ke China sebesar US$388,4 juta dan impor mencapai US$2,28 miliar. “Kunjungan CCCT diharapkan menjadi jembatan untuk kerja sama perdagangan melalui investasi.Setelah investasi masuk, produk yang dihasilkan untuk kebutuhan ekspor,” ujarnya.Ade mengatakan China sebenarnya telah memberikan sejumlah fasilitas kepada API untuk meningkatkan ekspor, seperti mengikutsertakan dalam pameran berskala internasional.Namun, dia mengakui pengusaha Indonesia selama ini belum memanfaatkan fasilitas pameran tersebut secara optimal.Vice Chairman CCCT Jiang Hui mengatakan sejumlah investor masih menjajaki untuk menanamkan modalnya di Indonesia.”Diharapkan hubungan dagang kedua negara akan semakin erat,” paparnya.Dia mengatakan ada sejumlah keuntungan berinvestasi di Tanah Air, antara lain karena kondisi ekonomi Indonesia yang relatif kuat. Defisit perdagangan antara Indonesia dan China cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Per Maret 2011, total impor dari China ke Indonesia mencapai US$1,37 miliar dibandingkan Februari sebesar US$1,34 miliar.

Pada Maret 2011, defisit perdagangan produk non migas Indonesia-China mencapai US$668 juta, atau naik dari Januari 2011 sebesar US$327 juta. “Tren defisit perdagangan dengan China memang membesar.Tapi, ekspor ke China juga naik,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Rusman Heriawan, pada konferensi pers pengumuman inflasi deflasi bulan Maret di BPS Pusat, Senin, 2 Mei 2011.Defisit perdagangan dengan China, menurut Rusman, juga mempengaruhi nilai surplus perdagangan yang makin berkurang. Maret 2011, surplus perdagangan Indonesia mencapai US$1,6 miliar, atau turun 1,25 persen dari bulan sebelumnya.  “Kami melihat belum ada keseimbangan dengan China,” ungkapnya.Dari data BPS, beberapa barang yang diimpor dari China mayoritas adalah barang modal dan barang konsumsi seperti elektronik, mesin serta buah-buahan.

Telepon seluler menempati urutan teratas impor China ke Indonesia sebesar US$107,7 juta, laptop US$59,7 juta, dan buah-buahan segar US$24 juta.   Sementara itu, ekspor IndSSSonesia ke China sebagian besar berupa barang mentah seperti karet sebesar US$124,2 juta, batu bara US$95,9 juta, tembaga US$74 juta, dan cooking coal US$ 72 juta.Barang-barang impor dari China, ujar Rusman, memang tidak dapat dicegah masuk ke pasar Indonesia karena harganya murah dan kompetitif.Apalagi, menurut Rusman, ekspor impor bersifat resiprokal dan tidak mungkin menuntut agar impor turun dan ekspor naik.”Kami tidak perlu menahan impor dari China.Struktur impor yang besar dari China juga membawa teknologi dan investasi yang besar,” tambahnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

Berkaitan dengan isu yang akan diangkat dalam makalah ini, sebaiknya kita perlu mengetahui seperti apa yang disebut dengan impor dan ekspor itu sendiri. Kita ketahui bersama bahwa ekspor merupakan kegiatan perseorangan atau badan hukum yang menjual barang ke luar negeri.Sedangkan impor merupakan suatu kegiatan perseorangan atau badan hukum yang membeli barang dari luar negeri untuk dijual kembali di dalam negeri.Data perdagangan Indonesia dan China berselisih jauh.Sepanjang triwulan I tahun 2012 ini, baik Indonesia maupun China menyatakan defisit dalam neraca perdagangan kedua negara. Catatan Bloomberg, sampai akhir Maret 2012, neraca perdagangan China-Indonesia defisit US$ 580 juta di pihak China. Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia tekor US$ 1,65 miliar dari neraca dagangnya dengan China. Entah data mana yang bisa dipercaya.

 

3.2 Saran

  • Semoga semua pengertian-pengertian yang ada dalam penulisan ini mengenai ”AKUNTANSI INTERNASIONAL: Defisit Ekspor Impor Indonesia Cina” anda pahami benar-benar.
  • Pelajarilah sekali lagi guna pendalaman pemahaman anda.
  • Usahakan seluruh kosentrasi anda tercurah dalam proses pembelajaran ini.

 

 

 

 

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Penelusuran Situs dan Website:

 

http://www.bisnis.com/system/article/image/4fd/0df/bc8/438/aa3/53d/001/28e/compact_kontainer_rmt002.jpg

 

http://id.shvoong.com/social-sciences/economics/2269570-pengertian-ekspor-impor-dan proses/#ixzz26WzTwvUZ

 

http://ariajach.blogspot.com/2011/04/akuntansi-internasional-adalah.html

 

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28523/3/Chapter%20II.pdf

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads
Standar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s